![]() |
| Kepala SPPG Dramaga Babakan, Muhamad Mahpud, bersama kuasa hukumnya melaporkan dugaan ancaman dan pemerasan oleh tiga oknum wartawan ke Polres Bogor, Jumat (23/10/2026). |
BOGOR, OZONE.co.id — Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dramaga Babakan, Muhamad Mahpud, bersama Winda (22), melaporkan tiga oknum yang mengaku sebagai wartawan ke Polres Bogor. Keduanya menduga para oknum tersebut melakukan ancaman dan pemerasan setelah menyebar opini mengenai dugaan hubungan tidak pantas.
Laporan itu didampingi kuasa hukum Herlan Budiyatno, S.H., dari Bara Legal Lab, paman Winda bernama Riko, suami Winda, serta sejumlah rekan SPPG. Laporan polisi telah tercatat dengan nomor LP/B/2501/X/2026/SPKT/Polres Bogor/Polda Jawa Barat pada 22 Oktober 2026.
Dugaan Pemerasan
Adapun kuasa hukum Herlan Budiyatno menjelaskan bahwa perkara berawal dari foto selfie yang diduga diambil oleh mantan karyawan SPPG Dramaga, Dinar, dari telepon genggam pribadi Mahpud. Foto itu kemudian disebarkan dan dikaitkan dengan dugaan hubungan istri antara Mahpud dan Winda.
Namun, menurut Herlan, foto tersebut bukan foto tidak senonoh. Foto itu diambil saat acara syukuran dapur MBG sebelum mulai berproduksi pada awal Januari 2026.
“Awalnya Dinar membuka-buka HP pribadi Mahpud dan memfotonya. Kemudian, foto selfie tersebut dikirim ke salah satu oknum yang bernama Yogi. Dari situlah opini dibangun seakan-akan terjadi perselingkuhan,” ujar Herlan saat dikonfirmasi, Jumat (23/10/2026).
Selain menyebarkan foto, para oknum juga diduga meminta uang sebesar Rp50 juta hingga Rp60 juta. Ancaman itu disampaikan dengan menyebut akan menaikkan berita ke empat media daring apabila permintaan uang tidak dipenuhi.
Oleh karena itu, Mahpud dan Winda memutuskan melaporkan peristiwa tersebut ke polisi. Herlan menyatakan sejumlah bukti, termasuk rekaman, percakapan WhatsApp, dan video, telah diserahkan kepada penyidik.
Klarifikasi Korban
Sementara itu, Mahpud menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki hubungan khusus dengan Winda. Menurutnya, hubungan keduanya semata-mata bersifat profesional sebagai kepala SPPG dan relawan.
“Foto selfie itu terjadi ketika para karyawan dan relawan saya makan bareng di salah satu rumah makan sebagai bentuk rasa syukur atas dapur MBG yang siap produksi,” ujar Mahpud, Rabu (21/10/2026).
Ia juga menjelaskan bahwa foto tersebut diambil sebelum Winda menikah pada Januari 2026. Mahpud mengaku masih memiliki hubungan keluarga besar dengan Winda, sehingga ia kerap memberi kabar kepada suami Winda sebelum maupun setelah pernikahan tersebut.
Hal senada dikemukakan Riko selaku suami Winda. Ia mengaku keberatan dengan pemberitaan yang menggiring seolah-olah istrinya menjalin hubungan intim dengan Mahpud.
“Saya tahu betul Mahpud. Dia selalu izin ke saya, baik sebelum saya menikah maupun setelah menikah dengan Winda, karena Kang Mahpud bukan orang lain di keluarga kami,” ungkap Riko.
Pertemuan di Kafe
Sebelumnya, dilaporkan terjadi pertemuan antara Mahpud dan dua orang yang mengaku sebagai wartawan di sebuah kafe di Kabupaten Bogor pada Senin (12/10/2026) sekitar pukul 17.30 WIB. Dalam pertemuan tersebut, Mahpud mengaku mengalami tekanan melalui sejumlah percakapan WhatsApp yang terekam.
Meski demikian, Mahpud menyatakan tidak terjadi benturan fisik selama pertemuan. Ia mengaku hanya membawa uang Rp10 juta dan menyerahkannya kepada dua oknum tersebut karena merasa terdesak.
Selanjutnya, Mahpud menyebut pertemuan itu dihadiri dua orang dengan inisial DS dan W. Sementara oknum dengan inisial Y tidak hadir, meski DS dan W mengaku bertindak atas perintah Y.
Apresiasi FWJ Indonesia
Mengenai perkara tersebut, Ketua Umum Forum Wartawan Jaya (FWJ) Indonesia, Mustofa Hadi Karya atau Opan, mengapresiasi langkah hukum yang diambil Mahpud. Menurutnya, pendampingan kuasa hukum penting agar fakta perkara dapat terungkap secara jelas.
“Langkah tegas dari Kepala SPPG Dramaga sangat bagus dan kami apresiasi itu. Terlebih, adanya pendampingan kuasa hukum agar perkara tersebut terang benderang,” ujar Opan melalui keterangan persnya di Jakarta, Jumat (23/10/2026).
Di sisi lain, Opan menyesalkan perilaku para oknum yang diduga melakukan ancaman dan pemerasan dengan mengatasnamakan profesi jurnalis. Ia menilai tindakan tersebut berpotensi mencoreng harkat dan martabat jurnalistik.
“Itu sangat jelas telah menjatuhkan dan menghancurkan nama baik profesi jurnalis. Jadi, harus ada efek jera untuk mereka,” tuturnya.
Sebelumnya, sejumlah media daring memberitakan dugaan perilaku tidak pantas Mahpud terhadap seorang relawan perempuan yang telah menikah. Namun, Mahpud telah melakukan klarifikasi bahwa foto bersama relawan tersebut diambil sebelum perempuan itu menikah. (Hnd)


